Obat Untuk Artritis Gout (Pirai/Asam Urat)

Obat-obat yang diberikan pada penderita artritis gout dapat diklasifikasikan atas :
  1. Obat untuk mengatasi serangan akut
  2. Obat yang mempengaruhi kadar asam urat

 

1. Obat Untuk Mengatasi Serangan Akut 

Obat terpilih untuk mengatasi serangan akut pada penderita artritis gout adalah kolkisin, Kolkisin adalah suatu anti-inflamasi yang unik karena efek anti-inflamasi nya spesifik untuk artritis tertentu seperti artritis gout.

Peran Kolkisin untuk artritis gout adalah sebagai anti mitotik sehingga sel gramulosit dan sel-sel radang lainnya kehilangan fibril / filamen (serat halus) mikrotubulus yang penting untuk pergerakan sel-sel tersebut.

Akibatnya pemberian kolkosin akan menghambat migrasi granulosit ke daerah radang dan aktivitas fagositosis sel granulosit tersebut akan berkurang sehingga proses inflamasi akan berkurang. Hal ini penting karena sel netrofil (salah satu jenis sel granulosit) akan mem fagositosis kristal asam urat dan menghasilkan suatu protein yang merupakan penyebab terjadinya artritis gout akut.

Selain itu, kolkisin dapat menghambat pelepasan histamin dan menurunkan demam. Obat ini tidak mempunyai efek analgesik. Pada penderita artritis gout kronik, kolkisin dapat diberikan sebagai profilaksis, terutama jika serangan penyakitnya sering berulang.

Efek samping yang paling sering dijumpai akibat pemberian obat ini adalah gangguan saluran cerna seperti mual, muntah dan diare. Pada penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan anemia aplastik (anemia, lekopenia dan trombositopenia tanpa adanya depresi sumsum tulang), alopesia (kebotakan) miopati dan sebagainya.

Selain kolkosin, obat lain yang dapat diberikan untuk mengobati keadaan inflamasi akut pada artritis gout adalah fenilbutazon (AINS turunan asam enolat) dan indometasin (AINS turunan indol dan asam inden asetat)

2. Obat Yang Mempengaruhi Kadar Asam Urat

Obat-obat yang mempengaruhi kadar asam urat dibedakan atas :
  • Urikosurik (meningkatkan ekskresi asam urat)
  • Mengurangi produksi asam urat
Obat-obat tersebut berguna untuk menurunkan kadar aam urat di dalam darah, tetapi tidak berguna untuk mengatasi serangan klinis.

Salah satu obat yang dapat mengurangi produksi asam urat yang sering diberikan adalah alopurinol. Pengobatan jangka panjang dengan alopurinol dapat mengurangi frekuensi serangan, menghambat pembentukan dan mengurangi besarnya tori dan me-mobilisasi asam urat sehingga dapat menghambat progresivitas penyakitnya.

Dengan menurunnya kadar asam urat di dalam darah, berarti mengurangi kemungkinan terbentuknya batu asam urat dan dapat mencegah terjadinya nefropati (kelainan ginjal). Pemberian alopurinol tidak banyak bermanfaat pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal yang berat.

Pada awal terapi dengan alopurinol dapat terjadi serangan artritis gout akut karena terjadi mobilisasi asam urat dari jaringan sehingga untuk hasil terapi yang baik, pemberian alopurinol sebaiknya dikombinasikan dengan kolkisin atau AINS lainnya yang efektif untuk penyakit ini.

Selama terapi dengan alopurinol, juga dapat terjadi pembentukan batu saluran kemih (batu xantin). Untuk mengurangi resiko terjadinya efek samping ini maka harus dilakukan alkalinisasi urine (meningkatkan pH urine) dengan cara  meningkatkan asupan cairan perhari selama pemberian alopurinol.

Efek samping lain yang sering terjadi adalah reaksi alergi pada kulit berupa kemerahan kulit, pruritus dan sebagainya atau gangguan saluran cerna. Walaupun jarang, dapat juga terjadi lekopenia, lekositosis (peningkatan jumlah sel darah putih di dalam darah), hepatomegaly (pembesaran hepar) dan peningkatan enzim-enzim yang menunjukkan adanya gangguan hepar.

Selam alopurinol, pada penderita artritis gout dapat juga diberikan obat urikosurik. Obat golongan ini bekerja dengan cara menghambat re-absorsi asam urat. Obat urikosurik yang sering digunakan dalam pengobatan penderita artritis gout adalah probenesid dan sulfinpirazon. Berbeda dengan probenisid, sulfinpirazon  yang merupakan turunan dari fenilbutazon (AINS) selain memberikan efek urikosurik, juga mempunyai efek anti-inflamasi. Efek samping yang sering terjadi  pada  pemberian kedua obat ini adalah gangguan saluran cerna.


0 comments:

Post a Comment